dibuat oleh hikam maulana
Tadabbur Alam merupakan sarana
pembelajaran untuk lebih mengenal ke Maha Besaran Allah SWT yang telah
menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. Nah, kalau ditanya;
Wahid, Apa kamu suka tadabbur alam? Pastilah saya akan menjawab,"bukan
suka lagi tapi hobi. Bukan berarti menyukai merenung sebagai media
penghambur waktu, melainkan sudah menjadi semestinya jika kita mengenal
Allah melalui ciptaan-Nya. Dengan begini, terbentuklah sebuah 'character
building' yang setidaknya menambah keimanan dan ketakwaan kita. Allah
ta'ala berfirman dalam surat al-ghasiyah:
Maka
apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan (17).
Dan langit bagaimana ia ditinggikan? (18). Dan gunung-gunung bagaimana
ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (19). Maka berilah
peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi
peringatan (21).
Oleh karena
itu, Jika kita menilik alam semesta sebagai sarana pembelajaran dengan
melakukan observasi secara langsung maupun tidak dalam rangka mengenal
Allah Azza wa Jalla melalui ciptaan-Nya, pastilah kita menjumpai
binatang yang satu ini,'Burung'.
Ada apa sih dengan burung?dan kenapa harus 'Burung'?
InsyaAllah, saya akan menjelaskannya.
Waktu
itu saya melihat burung yang dengan setianya mencari nafkah untuk
keluarganya. Dapat dilihat bahwa, ia belum mempunyai sebuah tujuan tetap
dimana ia akan mendapatkan makanan. Tapi, ia mengerti bahwa bumi Allah
itu luas dan Allah maha kaya. Terkadang ia pulang membawa makanan dan
membagikannya kepada keluarganya. Itu pun jika tidak cukup ia harus
berpuasa. Sekali lagi, Demi kelurganya. Disini jelas sekali bahwa
eksistensi dari seorang pemimpin adalah mendahulukan kesejahteraan
makmum. Tak peduli atas apa yang terjadi akan dirinya. Coba dibayangkan,
Pernahkah kita melihat seekor burung dengan tragisnya
membentur-benturkan kepalanya di batu cadas karena merasa stress akibat
tidak memiliki tempat mencari makan yang sifatnya tetap. Allahu akbar!
Lantas, Bagaimana dengan kita? Manusia?
Ikhwan wa Akhwat Fillah
Sebuah
kecenderungan klasik, sepanjang sejarah manusia, bahwa konflik-konflik
intelektual yang besar, acapkali terjadi karena adanya pemisahan,
sebutlah misalnya , iman yang terpisah dengan rasio. Ketika hati kita
mengetahui ke MahaBesaran sang pencipta yang terbentuk dalam sebuah
karakter tauhid Rububiyah dalam diri kita atas penciptaan Nya, Kita
sudah seharusnya menggunakan 'RASIO' untuk menganalisa dan memahami
bahwa penciptaan bumi dan langit beserta isinya merupakan sebuah
keteraturan. Adanya sebuah keteraturan itu, tentu melibatkan sang
pengatur yaitu Allah Azza wa Jalla.
Oleh karena itu, Lantas bagaimana Memahami Ayat Allah di Alam ?
Dalam
Al Qur'an dinyatakan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang
tidak mengenali atau tidak menaruh kepedulian akan ayat atau tanda-tanda
kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-Nya.
Sebaliknya,
ciri menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami
tanda-tanda dan bukti-bukti kekuasaan sang Pencipta tersebut. Ia
mengetahui bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, dan ia mampu
memahami kekuasaan dan kesempurnaan ciptaan Allah di segala penjuru
manapun. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan
diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan
yang berakal, yaitu
"…orang-orang
yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."
(QS. Ali 'Imraan, 3:190-191)
Di
banyak ayat dalam Al Qur'an, pernyataan seperti, "Maka mengapa kamu
tidak mengambil pelajaran?", "terdapat tanda-tanda (ayat) bagi
orang-orang yang berakal," memberikan penegasan tentang pentingnya
memikirkan secara mendalam tentang tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah
telah menciptakan beragam ciptaan yang tak terhitung jumlahnya untuk
direnungkan. Segala sesuatu yang kita saksikan dan rasakan di langit, di
bumi dan segala sesuatu di antara keduanya adalah perwujudan dari
kesempurnaan penciptaan oleh Allah, dan oleh karenanya menjadi bahan
yang patut untuk direnungkan. Satu ayat berikut memberikan contoh akan
nikmat Allah ini
"Dia
menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma,
anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. An-Nahl, 16:11)
Marilah
kita berpikir sejenak tentang satu saja dari beberapa ciptaan Allah
yang disebutkan dalam ayat di atas, yakni kurma. Sebagaimana diketahui,
pohon kurma tumbuh dari sebutir biji di dalam tanah. Berawal dari biji
mungil ini, yang berukuran kurang dari satu sentimeter kubik, muncul
sebuah pohon besar berukuran panjang 4-5 meter dengan berat ratusan
kilogram. Satu-satunya sumber bahan baku yang dapat digunakan oleh biji
ini ketika tumbuh dan berkembang membentuk wujud pohon besar ini adalah
tanah tempat biji tersebut berada.
Bagaimanakah
sebutir biji mengetahui cara membentuk sebatang pohon? Bagaimana ia
dapat berpikir untuk menguraikan dan memanfaatkan zat-zat di dalam tanah
yang diperlukan untuk pembentukan kayu? Bagaimana ia dapat
memperkirakan bentuk dan struktur yang diperlukan dalam membentuk pohon?
Pertanyaan yang terakhir ini sangatlah penting, sebab pohon yang pada
akhirnya muncul dari biji tersebut bukanlah sekedar kayu gelondongan. Ia
adalah makhluk hidup yang kompleks yang memiliki akar untuk menyerap
zat-zat dari dalam tanah. Akar ini memiliki pembuluh yang mengangkut
zat-zat ini dan yang memiliki cabang-cabang yang tersusun rapi sempurna.
Seorang manusia akan mengalami kesulitan hanya untuk sekedar menggambar
sebatang pohon. Sebaliknya sebutir biji yang tampak sederhana ini mampu
membuat wujud yang sungguh sangat kompleks hanya dengan menggunakan
zat-zat yang ada di dalam tanah.
Pengkajian
ini menyimpulkan bahwa sebutir biji ternyata sangatlah cerdas dan
pintar, bahkan lebih jenius daripada kita. Atau untuk lebih tepatnya,
terdapat kecerdasan mengagumkan dalam apa yang dilakukan oleh biji.
Namun, apakah sumber kecerdasan tersebut? Mungkinkah sebutir biji
memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa?
Tak
diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki satu jawaban: biji tersebut
telah diciptakan oleh Dzat yang memiliki kemampuan membuat sebatang
pohon. Dengan kata lain biji tersebut telah diprogram sejak awal
keberadaannya. Semua biji-bijian di muka bumi ini ada dalam pengetahuan
Allah dan tumbuh berkembang karena Ilmu-Nya yang tak terbatas. Dalam
sebuah ayat disebutkan:
Dan pada sisi Allah-lah
kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia
sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada
sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan
tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang
basah atau yang kering, melainkah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh
Mahfudz). (QS. Al-An'aam, 6:59).
Dialah Allah yang menciptakan biji-bijian dan menumbuhkannya sebagai tumbuh-tumbuhan baru. Dalam ayat lain Allah menyatakan:
Sesungguhnya
Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia
mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari
yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka
mengapa kamu masih berpaling? (QS. Al-An'aam, 6:95)
Biji
hanyalah satu dari banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang
diciptakan-Nya di alam semesta. Ketika manusia mulai berpikir tidak
hanya menggunakan akal, akan tetapi juga dengan hati mereka, dan
kemudian bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan "mengapa" dan
"bagaimana", maka mereka akan sampai pada pemahaman bahwa seluruh alam
semesta ini adalah bukti keberadaan dan kekuasaan Allah SWT.